Single Parent, Besarkan Anak dan Sekolah TK (Part 1-2)

baliterkini.com

Ungasan, Baliterkini.com - Kehidupannya di masa kecil tidak jauh dari seorang sosok ayah sebagai guru Sekolah Dasar di Desa Pecatu. Dengan memiliki kesamaan bidang yang seolah diturunkan, semua berjalan seperti ditakdirkan dalam garis kehidupannya. Cita – cita untuk menjadi guru TK terwujud hingga akhirnya mengelola sekolah sendiri pemberian almarhum suaminya. “ Sekolah ini sebenarnya hadiah ulang tahun dari almarhum suami kedua, “  ujar perempuan yang terlahir 48 tahun silam.

Sepanjang meniti kehidupan dan membesarkan sekolah yang dirintisnya dari tahun 2001 tidaklah mudah. Sepeninggal kedua suaminya, untuk menyandang perempuan single parent memaksa dirinya menempatkan diri dalam berbagai posisi. Menjadi figur ibu sekaligus ayah, tentu sulit dijalani. Belum lagi menghadapi kenyataan pahit yang belum iklas diterima. Untuk itu kehadiran sebuah sekolah yang dekat dengan kehidupan anak – anak menjadikan dirinya terhibur. Sekolah Play Group dan Taman Kanak- Kanak Putra Pertiwi memberi kisah tersendiri penuh liku dan kenangan.

Sekolah yang dia pimpin sekarang berada dibawah Yayasan Dharma Putra Petiwi ini memang tidak terlepas dari peran almarhum suami keduanya. Sekolah ini diberikan kepadanya sebagai bentuk hadiah ulang tahunnya yang ke-34 yang tepat diberikan pada tanggal 6 April 2001. Ketika itu dirinya masih mengemban sebagai guru TK di Nusa Dua. “ Dulu saya mengajar di Nusa Dua, mungkin almarhum suami saya melihat backgrond dan skill saya, sehinggu muncul ide untuk memberikan saya hadiah sekolah TK, “ ucapnya sambil mengenang.

Perempuan energik  alumni  Sekolah Pendidikan Guru TK TP 45 Denpasar tahun1988 ini akhirnya mampu membawa nama sekolah menjadi besar. Jika dulu ketika baru berdiri, dia ingat betul jumlah siswa pertama berjumlah 12 anak – anak TK sebagi murid di angkatan pertama. Sekarang diatas lahan kontrakan yang memiliki luas 4,5 hektar sudah mengaktifkan 4 kelas dengan 65 murid TK. Dengan membawahi 6 tenaga didik yang semuanya merupakan sarjana, dirinya berharap sekolah yang dia emban bisa melenggang dengan tekad maju bersama untuk merangkul semua guru tanpa melihat latar belakang agama.

Sekolahnya kini terbukti dipercaya oleh orang tua murid dari berbagai kalangan. Bukan saja itu, sekolahnya kini memberi warna dalam kehidupannya. Kini dia lekat akan spiritual berlatar agama Hindu, justru ada warna keberagaman yang ada di sekolahnya saat ini. Dominan murid TK menganut Agama Islam. Itulah kenyataannya yang tak dia duga sebelumnya. Selain sekolahnya pernah memenangkan lomba antar Gugus di tingkat Kabupaten, sekolah yang dirintisnya ini pun jago dalam lomba Manasik Haji yang turut berkontribusi mengharumkan nama sekolah. Untuk mempertahankan itu tidaklah gampang, dirinya sangat sadar jika saat ini tantangan terberat adalah adanya banyak sekolah yang lebih baik tentunya.

Memimpin sekolah TK di Gugus PAUD V, Kuta Selatan dibutuhkan hubungan yang harmonis untuk menciptakan suasana yang kondusif antar guru- guru. Atas latar belakang mendirikan sekolah yang memegang teguh kebhinekaan ini, dirinya menjaga betul hubungan baik antar orang tua murid, guru maupun di lingkungan masyarakat. Untuk menciptakan itu, tentunya membutuhkan kepercayaan dari masyarakat.  Hal ini dilakukan dengan cara menghidari perilaku over protektif. “ Disini kita ciptakan suasana kondusif dengan cara mengajak untuk melangkah bersama. Kita selalu berbagi untuk selalu berjalan sama-sama. Sekolah ini anggap milik kita bersama untuk mencerdaskan anak- anak,“ ujar ibu tiga anak dengan satu cucu. [BT]

Komentar