Perkuat Media Alternatif, AJI Denpasar Luncurkan Website

AJI Denpasar

Denpasar, Baliterkini.com - Untung menampung aspirasi jurnalis dan sekaligus sebagai media alternatif bagi publik, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar meluncurkan website www.ajidenpasar.or.id, pada Minggu (30/8/2015) di Warung Kubu Kopi, Denpasar.
 
Peluncuran dibungkus dengan diskusi bertema Menaksir Isu Kebangsaan dalam Jurnalisme, yang menghadirkan musisi papan atas Leo Cristi, dan Wayan Juniartha, jurnalis senior The Jakarta Post. Menutup acara, musisi Leo Cristi menyanyikan sejumlah lagu andalannya, mengobati kerinduan penggemarnya di Bali. Turut tampil musisi Classic Rock & Blues Community asal Bali.
 
Di awal pemaparannya, Juniartha menjelaskan panjang lebar mengenai nasionalisme bangsa ini.  Salah satu poin yang ditegaskan bahwa dalam konteks kebangsaan, penjaga medan kesadaran bukanlah intelektual, tetapi pewarta kebudayaan seperti  penyanyi, pencipta lagu, seniman.
 
Sayangnya,  justru di tengah situasi bangsa saat ini, makin sedikit orang-orang seperti Leo Kristi, Iwan Fals yang selama ini menyuarakan kebangsaan dalam bentuk karya musik.
“Dalam 10 tahun ke depan mungkin mereka hilang dan kita menjadi khawatir . Negara Indonesia ini kan 13 ribu sekian pulau, 400 suku bangsa besar hampir 1.500 bahasa daerah, kenapa yang kita dengar di televisi logat Jakarta, gaya artis Jakarta, mana lagi suara Nusantara yang sering dilantunkan kita dengar dari Leo Kristi, ” tandasnya.
 
Berkaitan dengan kebangsaan, Leo Kristi mengungkapkan Konser Rakyat Leo Kristi yang terus didengungkan itu sejatinya diharapkan menjadi sebuah gerakan untuk menghargai jiwa-jiwa yang menjaga kebangsaan negara ini.  Menurutnya, sejak Gajah Mada mewarnai Nusantara dan juga  Bung Karno menyelesaikan lukisan indah di dataran Nusantara, memang sikap nasionalisme tumbuh dalam dirinya dari dulu sampai senja tutup usia bapak proklamator. Dia banyak melihat dan menjadi kisah duka bangsa.
 
“Di sini saya menceritakan lagu-lagu di Konser Rakyat Leo Kristi yang dimulai tahun 1975, ” jelas Leo Kristi.
 
Ketika di era tersebut orang-orang justru tidak berani tetapi dia sendiri mempunyai keyakinan dan berani untuk tetap menggunakan gerakan Konser Rakyat Leo Kristi tersebut. Bahkan saat dia tampil di Taman Ismail Marzuki dia juga merilis lagu-lagunya yang ada di album kedua. Pada konser tersebut dia  juga mencoretkan di layar background bertuliskan Pemuda Nyalakan Api Hatimu, Nyanyian pemuda, Nyanyian Revolusi. Demikian berlanjut hingga tahun 2000 dan akhirnya dapat  menyelesaikan 10 album dengan 100 album.
 
“Sekitar tahun 2000 saya melengkapi nya  dengan bendera dari Konser Rakyat Leo Kristi.  Bukan  merah di atas putih dan bukan berarti mendahulukan merah baru putih. Saya tetap menggunakan selalu merah  hendaknya selalu ada di dalam putih.  Kemudian, saya terus berkembang di album berikutnya,” jelasnya.
 
Lebih lanjut, ia menjelaskan bangsa seluas dunia, di sini lebih penting mensyukuri alam budaya, di mana jiwa yang kaya adalah sejahtera dunia.
 
“Jadi apa pun di belahan mana pun di negara ketika sesuatu dikerjakan oleh manusia kita selalu bertanya sekaya apakah di dalam hatimu ketika  engkau menghadapi istrimu, anak perempuan, cucu perempuan, ” terangnya.
 
Konser Rakyat Leo Kristi, berharap  senantiasa mendasari semua gerakan ini sebagai  kekayaan jiwa  di dunia. “Apa pun kalian sampaikan, kalian pamerkan, kalian pegang, kalian nikmati semua perangkat dunia ini hari ini ada, dan  tahun depan mungkin tidak berlaku. Sekaya apa manusia-manusia  di dunia itu. Di sini konsep konser rakyat bangsa seluas dunia, ” tandasnya.
 
Sementara, Ketua AJI Denpasar Hari Puspita mengatakan bersyukur dengan semangat gotong royong AJI Denpasar masih bisa berbuat.  Salah satunya membuat website www.ajidenpasar.or.id
Peluncuran ini sekaligus mewarnai ulang tahun AJI pada 7 Agustus. Mengenai tentang tema Menaksir Isu Kebangsaan dalam Jurnalisme, karena semakin hari banyak hal  yang susah menanamkan dalam dirinya semangat kebangsaan.
 
“Selain itu soal lagu tema rakyat kecil seperti Leo Kristi dulu yang memperjuangkan rakyat kecil tetapi sekarang semakin tidak jelas arahnya dan kita mencoba mendiskusikan itu, ” terangnya.
 
Aris Wisantyo mewakili Divisi New Media AJI Denpasar, menjelaskan website tersebut yakni berawal dari keresahan mereka sebagai jurnalis tidak bisa melakukan berbagai hal mereka inginkan, karena mereka juga dibatasi oleh kepentingan media itu sendiri. Sehingga website ini diharapkan nantinya bisa menjadi ruang idealisme bagi anggota Aji Denpasar.
 
Dalam web tersebut juga dibikin perwajahan mengikuti AJI Indonesia. Ada agenda kegiatan AJI,  menyediakan sebuah ruang setiap pernyataan resmi Aji dan lain sebagai.
 
“Untuk menjadikan AJI lebih dekat dengan publik, kita juga akan membuat kolom opini dan akan melihat formasinya. Selain itu ada gallery foto dan video, ” jelasnya. [BT / AJI DENPASAR]

Komentar