Winasa, Membuat Panggul Pemukul Gamelan Bali

balebengong.net

Jembrana, Baliterkini.com - Perajin panggul ini menghidupkan tradisi sekaligus anak dan istri.

Ketut Winasa Putra, 34 tahun, ahli membuat panggul, alat pemukul gambelan khas Bali yang bentuknya mirip palu. Hasil kerajinannya sebagian sudah terjual secara perorangan ke wilayah Denpasar dan Tabanan. Dia memanfaatkan keberadaan Koperasi Unit Desa (KUD) di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutanan, Kabupaten Jembrana. Melalui usaha ini, ia terbukti mampu menjadi pengelola usaha rumah tangga secara mandiri.

Semenjak ayahnya meninggal dua tahun yang lalu, ia meneruskan usaha bapaknya. Tak hanya usaha, Winasa memamng mewarisi bakat ayahnya guna menghidupkan kembali usaha sebagai pengrajin panggul. Bapak satu anak ini bekerja sendiri tanpa dibantu siapa pun.

Alat yang digunakan pun bisa dibilang sangat sederhana, hanya sebilah golok dan sepotong kayu sebagai alas untuk menghaluskan kerajinannya.

Jenis bahan yang digunakan berasal dari kayu kemuning (Murraya paniculata) dan kayu kendung (Helicia javanica). Kedua bahan kayu tersebut ia peroleh di wilayah Tabanan dan sebagian dari Desa Pedungan, Denpasar.

Untuk memperoleh bahan tersebut dia harus berusaha keras agar bisa mencapai dalam hutan. Ia hanya dibantu oleh seorang teman.

Kayu-kayu tersebut akhirnya dibawa pulang setelah membelinya dari seorang pemilik lahan. Kerap kali ia menemui kesulitan dan hambatan dalam memperoleh kayu-kayu itu. Tak jarang binatang melata jenis ular ukuran besar ia jumpai.

Kayu kemuning dan kayu kendung adalah jenis kayu yang paling banyak digunakan sebagai panggul. Namun, kayu tersebut juga memiliki kekurangan.

“Kayu kemuning bagus. Hasil suaranya jernih namun pantangannya tidak boleh dibawa ketempat duka. Kalau kayu kendung bebas,” terangnya.

Pesanan
Sebagai seorang pengrajin rumah tangga ia tetap memilih kedua jenis kayu tersebut. Dalam sehari ia kadang menghasilkan 5 biji panggul. Namun, kadang bisa juga kurang. Tergantung kesibukannya beternak dan berladang.

Setelah genap 10 pasang, hasil kerajinan tersebut lalu ia kirim ke Koperasi Unit Desa Surya Merta Desa Gumbrih. Untuk sepuluh set panggul ia hargai Rp 100.000. Pihak koperasi bisa menjual dengan harga lebih dari itu. Karena sebagai barang titipan ia hanya cukup terima Rp 100.000.

“Yang penting saya terima seratus ribu. Selebihnya biarlah Koperasi yang atur harga,” ungkapnya.

Jasa koperasi rupanya sangat membantu dalam proses pemasaran. Terbukti tiap kali ia menaruh barang titipannya selalu saja habis terjual dan tidak mengenal kembali. Apalagi di saat-saat musim menjelang hari raya, ia kerap kali menerima banyak pesanan dari daerah lain seperti Tabanan.

Sebagai seorang pengrajin rumah tangga, buruh tani dan beternak  dari hasil itu mengaku sangat bersyukur sehingga mampu menutupi kebutuhan hidup istri dan ibu kandungnya yang tinggal dalam satu rumah.

“Apapun usaha yang digeluti yang penting syukur. Asal bisa makan dan menyekolahkan anak,” imbuh pria yang pernah bercita-cita menjadi seorang guru ini. [BT]

Komentar