Senggol Peliatan

baliterkini.com

Ubud, Baliterkini.com - Seperti layaknya pasar senggol lainnya, Pasar Senggol Peliatan hanya menghadirkan aneka makanan lokal. Semua yang berjualan disini merupakan penduduk lokal asal Desa Peliatan, Ubud. Mereka menggelar dagangan tepat di pelataran parkir, persis seberang jalan, depan Puri Peliatan, Ubud. Bukan saja orang lokal, banyak wisatawan asing mencoba berbagai kuliner yang ada di sini.

Ketika disambangi, satu persatu dagangan yang digelar nampak berbeda dengan yang lainnya. Disini anda dapat menjumpai aneka kuliner. Mulai dari minuman pelapas dahaga, minuman herbal, jajanan bali, serta nasi dengan lauknya yang beragam.

Saban hari, mereka berjualan saling berhimpitan menjajakan kuliner dibawah tenda yang beratapkan kain terpal yang bisa dibongkar pasang. Sebanyak sebelas pedagang menawarkan aneka kuliner kepada wisatawan yang kebetulan datang ke Peliatan. Pasar ini rutin menjual aneka kuliner yang buka mulai dari pukul 2 siang sampai pukul 10 malam.

Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Peliatan, khususnya yang baru selesai berwisata di dalam Puri Peliatan membawa berkah bagi penjaja kuliner disini. Mereka umumnya kaum ibu rumah tangga, ramah menyapa wisatawan yang berbelanja dengan kemampuan berbahasa inggris yang pas-pasan.

“ Di stand kuliner ini, banyak wisatawan asing mencoba hidangan yang kami jual. Mereka datang setelah nonton Tari Legong di depan. Mereka paling suka dengan gado – gado (Maksudnya Tipat Plecing),“ kata Ketut Puji sembari tangannnya sibuk mencampur Tipat Plecing pesanannya.

Puji, menempatkan menu Tipat Plecing sebagai menu handalan, selain Nasi Sela, Nasi Tulen, Tipat Plecing serta berbagai pilihan lauk pauk lainnya disediakan di sini. Nasi dan Tipat dapat ditemani dengan Pesan Lindung, Pesan Tlengis, dan Pesan Lele. Harga yang dibandrol bervariatif. Lauk Pesan dihargai mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 3.000 perbijinya. Sedangkan untuk satu porsi tipat plecing, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 5.000 sudah termasuk sayuran. Sedangkan khusus wisatawan asing, cukup membayar Rp 10.000 saja.

Tak cukup sampai disini, melangkah sedikit lagi, di deretan lainnya akan ada botol kemasan berisi minuman berwarna kuning cerah digelar di atas meja. Penampilannya, memancing siapa saja untuk mendekati dan mencoba mencicipi ramuan Jamu Kunyit Sirih yang berbahan dasar Kunyit.

Sang peracik, Made Menur, menyebut minuman ini untuk kalangan wisatawan dengan nama Tumeric Juice. Minuman yang di kategorikan minuman herbal ini secara keseluruhan memang berasal berbahan dasar alami, yang mengandung kunyit, temu ireng, temutis, temu lawak, jahe merah, daun sirih, dan madu. Semua direbus menjadi satu dan akhrinya disaring menghasilkan ekstrak minuman yang berkhasiat tanpa zat kimia.

“ Minuman ini sangat baik untuk stamina, menambah nafsu makan, menyembuhkan luka dalam serta bagi yang khusus perempuan bisa melancarkan haid, “ ungkap Made Menur.

Minuman racikan Menur, bukan saja menarik untuk dicicipi, bagi wisatawan asing hal ini membuat rasa penasaran dalam proses pembuatannya.

“ Selama ini, sudah ada sekitar 5 kali tamu ( turis ) yang datang kerumah hanya untuk melihat cara membuat jamu, “ imbuh Menur, yang tinggal tidak jauh dari Puri Peliatan, Ubud.

Perbotol Tumeric Juice dijual dengan harga Rp 7.000  dengan kapasitas 600 mili liter, pergelas cukup dengan harga Rp 2.000. Apabila ingin lebih berkhasiat lagi, Tumeric Juice dapat ditambah dengan telor ayam kampung dengan menambah Rp 2.000 perbijinya.

Menur, menjelaskan, Tumeric Juice ramuannya dapat bertahan sampai empat hari. Baik disimpan dalam kulkas agar lebih terasa segar.

Maksimalkan kunjungan anda ke Ubud dengan menyempatkan diri untuk mencicipi aneka kuliner tradisional disini, sebelum kembali melihat resort asri yang menghiasi jalur wisata selanjutnya. [BT]

Komentar