Putu Ardika, Pengrajin Wadah Asal Petang

baliterkini.com

Badung, Baliterkini.com - Pulau bali dengan mayoratis penduduk beragama hindu memiliki banyak tradisi unik dalam tata cara persembahyangannya. Salah satu tradisi tersebut dapat kita lihat dalam upacara Ngaben atau Pelebon.

Pelaksanaan Ngaben tentunya dilakukan dengan berbagai persiapan, salah satunya membuat Wadah atau Bade. Wadah biasanya dikerjakan secara bergotong royong bersama masyarakat, namun tak banyak perlengkapan Ngaben, sekarang ini dapat dipesan kepada pengrajin yang khusus membuat alat pengabenan,  seperti yang dilakukan oleh pengarajin asal Desa Carangsari, Petang.

Seperti kita ketahui, bahwa umat hindu di bali melakukan berbagai rangkaian dalam ritual upacara Nagben. Mulai dari menentukan hari baik sampai persiapan berbagai perlengkapan upacara yang terdiri dari simbol – simbol keagamaan. Namun tak banyak juga yang melangsungkan upacara Ngaben dilaksanakan singkat tanpa menunggu lama bagi mayat yang disemayamkan di rumah duka.

Proses ini menjadikan I Putu Ardika, 35 tahun, seorang penjual alat perelengkapan Ngaben serius digelutinya sejak tamat Sekolah Menengah Kejuruan. Bertempat di Banjar Samuan Kawan, Desa Carangsari, Petang, ia mengerjakan pesanan wadah yang nantinya digunakan sebagai pelepasan terakhir kehidupan manusia.

Perlengkapan yang sering dikerjakan antaranya Wadah, Singa, Lembu, Bukur, dan Ogoh- ogoh dalam upacara Ngaben. Dalam ruang kerja yang tak begitu luas mereka bekerja siang malam bersama 8 orang pekerja yang tergolong masih muda. Mereka berkutat dengan rangkaian kayu yang penuh makna dalam kehidupan upacara. Bila pesananan tinggi dan mendesak, tak dipungkiri, pengerjaan wadah dilakukan secara lembur.

“ Kami mengerjakan wadah paling cepat satu hari untuk satu unit wadah. Yang lama itu, membuat lembu karena perlu dirangkai seperti membuat ogoh – ogoh, “ tutur Ardika.

Ketika ditemui, mereka tengah mengerjakan dan merangkai perlengkapan wadah. Wadah bisa dibedakan berdasarkan tingkatan Kasta yang ada di bali. Bentuk fisik Wadah jelas terlihat dari struktur dan simbol – simbol yang digunakan.

“ Wadah Batur Sari digunakan soroh pedanda atau pemangku, perbedaannya di palih ( tingkatan ), “ terang Ardika.

Untuk golongan orang biasa yang meninggal, lanjut Ardika menggunakan Wadah Bebaturan. Struktur ukuran tinggi Batur Sari dan Bebaturan jelas terlihat yang dikombinasikan dengan hiasan warna yang ditempel. Untuk tinggi bisa mulai dari ukuran 4 sampai 5 meter pada Bebaturan dan 5 meter untuk Batur Sari. Warna pada Wadah Batur Sari lebih terkesan warna putih dan kuning yang melambangkan kesucian, sedangkan Bebaturan akan nampak kombinasi merah, putih dan kuning yang diperuntukan golongan jaba atau biasa.

Sementara, replika Lembu telah ada dan disiapkan berdasarkan soroh, antaranya Lembu Putih bagi golongan Pedanda dan Pemangku, Merah untuk soroh Pande, dan hitam untuk golongan biasa atau Jaba. Adapun semua wadah yang digarapnya menggunakan kayu yang biasa mereka gunakan, merupakan jenis kayu Albasia yang sangat familiar di Petang.

Bagi Ardika, mengerjakan Wadah dibutuhkan ketelitian dan keahlian serta diiringi dengan kerja keras untuk melengkapi pesanan dari berbagai golongan. Dirinya bekerja secara team untu melakukan bagian – bagian yang khusus, seperti membuat rangka, hiasan, rangka wadah, bikin palih, dan menempel hiasan sampai proses pengiriman ke tempat tujuan.

“ Kadang kami kirim wadah pada hari H-1 atau H-2, karena jaraknya jauh seperti waktu ini pernah kirim ke Buleleng, kalau jaraknya dekat, pagi – pagi sekali sudah sampai di tujuan, “ kata Ardika.

 Untuk itu, dengan kekuatan team 8 orang, kadang wadah dikerjakannya sampai larut pagi agar pesanan dapat diselesaikan dengan segera. Hari biasa, ia bekerja mulai dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Wadah dan Bebaturan dijualnya mulai dari 2 Juta sedangkan untuk Replika Lembu dijualnya 3, 5 juta. Bagi yang butuh jasa pengiriman sampai di tempat tujuan, pihaknya menambah ongkos kirim.

Setelah sampai dilokasi, kemudian Wadah sentuhan tangan Ardika bersama tim diserahkan bersamaan perelengkapan kepada rumah duka.  Hal ini dilakukannya untuk menjalankan amanah sebagai jembatan penghubung bagi sang arwah untuk dapat sampai ke tempat asalnya. [BT]

Komentar