Menikmati Pesona Pantai Pekutatan

baliterkini.com

Pekutatan, Baliterkini.com - Bali memiliki banyak obyek wisata yang menawarkan sejuta pesona alam. Sebagian besar pesona alam yang disuguhkan merupakan bagian dari kawasan hutan, pegunungan, serta laut. Daya tarik yang dimiki bali tidak lepas pula dari wujud budaya masyarakat lokal serta adat istiadat yang telah mengakar.

Termasuk juga sejarah, sebagian pantai memiliki jejak sejarah yang kini berupa peninggalan. Salah satu pantai yang memadukan unsur panorama dan sejarah perjuangan pahlawan bali adalah pantai Pekutatan. Pantai Pekutatan terletak  di bali bagian barat, tepatnya 200 meter menyusuri Jalan Pelabuhan. Ke arah selatan dari pusat pasar Pekutatan, Jembrana. Sangat mudah ditemui, karena lokasinya tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Denpasar – Gilimanuk.

Sore itu, matahari perlahan condong ke ufuk barat  meredup diantara  daratan pulau jawa yang menerawang jauh. Apabila cuaca cerah akan nampak jelas daratan pulau Bali bagian barat bersanding dengan daratan pulau Jawa yang menjorok ditengah samudera Hindia. Keduanya seakan berjarak hanya beberapa kilometer. Sangat elok apabila dilihat sambil duduk bersantai di tepian pantai, sembari menunggu matahari terbenam.

Pantai ini memilik tekstur hamparan pasir yang berkarang, sebagian hamparan pasir akan menghiasi hamparan karang yang dihiasi lumut atau rumput laut yang hijau. Di sela – sela karang ada sejumlah kubangan air laut yang berisi ikan atau jenis biota laut dalam ukuran kecil. Banyak wisatawan mengamati lebih dekat serta digunakan sebagai tempat berendam oleh anak – anak.

Yang jadi ikon dari pantai ini merupakan adanya sebuah tugu berbentuk kapal. Tugu ini menceritakan tentang pendaratan pasukan I Gusti Ngurah Rai dari pulau Jawa. Dalam tugu ini, seharusnya ada 4 pejuang berdiri di atas kapal. Namun sekarang, terdapat tiga orang pejuang yang satunya sudah rusak. Mereka tengah melakukan kegiatan di atas kapal dalam sebuah palayaran. Nampak sosok I Gusti Ngurah Rai dengan kokohnya berdiri. Seiring waktu, tugu tersebut telah mengalami kerusakan di beberapa bagian akibat dihantam ombak.

Semangat perjuangan dalam foto ini jelas tergambar. Di bagian sisinya terdapat sebuah tulisan yang terpahat dalam sebuah nisan. Tulisan tersebut menyebutkan : “ Pada Tanggal 4 April 1946 Setelah Kembali Dari Tugas Melapor Kepada Pimpinan Negara Republik Indonesia Di Yogya “. Kini, semua menjadi bukti bahwa ini adalah tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan menjadi daya tarik wisatawan asing yang kebetulan berlibur di bali.

Tak jauh dari patung ini berdiri, ada sebuah tempat penginapan yang memiliki sarana kolam renang dan restoran sebagai tempat akomodasi. Menurut salah salah seorang pengelola, Rondy Ginawan, pantai ini mulai ramai dikunjungi wisatawan asing sejak tahun 2001, disaat mulai adanya tempat penginapan. Disini hanya ada satu tempat penginapan sekelas hotel melati.

“ Kebanyakan tamu yang menginap, hanya untuk rileks dan bermain selancar apabila ombaknya sedang bagus. Mereka sebagian besar wisatawan dari negara eropa “, ujarnya.

Notabene, wisatawan yang datang kesini berpasangan. Ada pula untuk merayakan hari pernikahan atau honeymoon. Untuk tarif sekali menginap, akomodasi disini mulai memasang ongkos dari Rp. 2 000.000 sampai Rp. 6.000.000. Tempat penginapan disini berupa kamar maupun villa yang dapat dihuni mulai dari dua sampai empat orang.

Pantai ini masih sunyi, di kedua sisinya terdapat hamparan kebun yang ditumbuhi kelapa.  Tak jauh di bagian sisi utara, terdapat kelompok perahu nelayan yang menjadi pelabuhan. Aktifitas kegiatan nelayan akan jelas terlihat disaat musim ikan tiba.

Saban sore, pantai ini akan ramai dikunjungi oleh anak muda menghabiskan waktu sore untuk bermain bola di hamparan pasir. Begitu juga ketika hari suci purnama dan tilem, masyarakat lokal akan banyak datang untuk mandi dan menghaturkan sesaji berupa canang atau banten di tepian.

Tiap tahun sekali, pantai ini digunakan oleh masyarakat desa untuk melakukan kegiatan Mekiis atauMelis. Rangkaian kegiatan upacara Mekiis atau Melis, dilakukan oleh penduduk desa disini dua hari sebelum Upacara Hari Raya Nyepi. [BT]


TAGS :

Komentar