Cho – Jaensan, Coklat Ekslusif Asli dari Petani

baliterkini.com

Jembrana, Baliterkini.com - Untuk membuka usaha rumahan yang menjanjikan dari manisnya coklat dalam skala kecil butuh riset dan pengalaman. Upaya ini telah dibuktikan oleh sekelompok petani biji kakao di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Jembrana.  Mereka menjalankan produksi coklat kemasan yang sudah didukung dengan teknologi modern. Melalui kelompok Unit Pengolahan Hasil  ( UPH ) Sari Bumi, coklat ekslusif berproses mulai dari biji sampai pengemasan.

Tidak sulit menemukan proses pembuatan coklat yang dikerjakan langsung oleh petani yang jumlah anggotanya 18 orang. Rumah yang baru berdiri awal tahun ini terletak di Banjar Dalem, Desa Gumbrih. Rumah produksi ini berdiri diatas lahan seluas dua are, dan baru beroperasi sejak Januari  2016 setelah izin edar keluar. Unit usaha ini didukung tiga tenaga terampil berlatar belakang pengalaman di bidang pertanian ini mampu menghasilkan dua produk coklat handalan. Dark Chocolate dan Milk Chocolate  merupakan dua produk kemasan coklat mulai meramaikan pasar impor.

Kedua produk ini oleh pencetus nama dan desain kemasan, Putu Mawa (38) diberi merek Cho-Jaensan akronim dari Bahasa Bali Coklat Jaen San. Menurut dia, coklat olahannya ini berasal dari bahan baku biji kakao pilihan yang sudah bersertifikasi UTZ. “ Standar UTZ merupakan perangkat untuk mengatur standar produksi dan pengolahan kopi dan kakao yang berkantor pusat di Belanda, “ katanya. Biji kakao ini pula sudah melalui proses pemisahan yang memang layak untuk diolah sebagai coklat kemasan.

Tahap pengolahan sudah didukung dengan mesin modern yang difasilitasi oleh pemerintah. Ada beberapa tahapan sebelum coklat diproses sampai pengemasan. Sebelumnya biji kakao difermentasi yang bertujuan mengurangi tingkat keasaman. “ Biji coklat yang bagus setelah dipetik harus difermentasi selama 5 hari, selanjutnya baru dijemur agar manisnya meresap kedalam biji, “ terang Mawa didampingi istri Ni Komang Sri Purnamayanti disela proses pengemasan.

Mawa menjelaskan secara singkat beberapa tahapan dilakukan dengan menggunakan mesin. Pertama biji kopi melewati proses sangrai di dalam mesin Roaster. Kemudian melewati juga proses pemisahan kulit terluar dari biji kakao yang dikerjakan oleh mesin Winnowing. Beberapa mesin juga bertugas menghaluskan coklat yang sudah bercampur gula dan bubuk susu berbentuk pasta coklat dengan suhu yang sudah ditentukan. “ Kunci proses pembuatan coklat ini adalah Tempering,  suhu coklat diturunkan menjadi 25 sampai 28 derajat sebelum proses cetak, “ terang Mawa.

Lanjut Mawa, dalam sehari dia mampu memproduksi 300 batang coklat dengan masing- masing memiliki berat 35 gram dari jumlah bahan 20 hingga 30 kilogram. Cuman dalam beberapa mesin terutama di mesin Tempering hanya mampu menampung adonan pasta coklat yang siap cetak berkapasitas 10 kilogram. Proses akhir, setelah coklat masuk dalam cetakan selanjutnya disimpan dalam ruang berpendingin selama 30 menit. Selanjutnya barulah pada tahap pengemasan yang masih terbilang sederhana. Pihaknya sampai saat ini masih memiliki beberapa stok untuk selanjutnya dipasarkan ke sejumlah pasar modern atau melalui pesanan.

Khusus Valentine, pihaknya sudah menyiapkan coklat edisi khusus valentine yang memiliki kemasan tak kalah dengan coklat import. Mawa berharap, kedepan produksinya ini bisa tembus dipasaran internasional terutama bandara maupun di pusat oleh- oleh. Selama ini pemasaran hanya dilakukan lewat online dan dibeberapa supermarket. Karena baru berdiri, dia mengakui jika yang dihadapi tantangan sekarang tentang pemasaran yang masih  lemah. “ Karena produk ini eksklusif, dari biji kakao dan dari petani langsung, berharap kedepan target kami bisa menembus pasar yang ekslusif terutama bandara dan pasar oleh- oleh dan kami menjamin tetap menjaga proses produksi dengan baik , “ Mawa berharap.

Tumbuh Bersama Koperasi

Mawa bersama sang istri bukan semata- mata tanpa pengalaman berkecimpung dalam proses pengolahan biji kakao yang dirintisnya bersama koperasi sejak 2006. Melalui kelompok fermentasi dan sortasi  biji kakao yang sebelumnya dibina oleh Koperasi Kerta Semaya Samaniya yang beralamat di Melaya, Jembrana membuat dirinya banyak pengalaman melalui pelatihan yang diberikan.

Mawa, yang juga salah satu pengurus di koperasi tersebut mengakui jika keberadaan koperasi berperan dalam meningkatkan daya beli hasil pertanian dan kretifitas petani. Sehingga kecenderungan petani merugi bisa ditanggulangi. “ Di Koperasi kami tetap mempertimbangkan mutu dan kwalitas, sehingga harga jual dari petani akan bisa lebih mahal dari buyer lokal atau pengepul, “  terang Mawa yang sudah beberapa kali keluar daerah mengikuti pelatihan mengolah coklat.

Pertimbangan kwalitas produk biji kakao juga didukung dengan diperolehnya sertifikasi UTZ. Dan kini Koperasi Kerta Samaniya membina 22 subak yang ada di Kabupaten Jembrana. Beberapa kali sudah hasil pertanian berupa biji kakao dikirim ke luar negeri. Semua berkat sertifikasi UTZ yeng memang dirasa sulit untuk mendapatkannya. “ Proses mendapatkan sertifikasi melalui beberapa proses dan penelusuran. Untuk itu kami tetap menonjolkan mutu  biji kakao yang premium, “ tandasnya. Dalam kemasan coklat yang berukuran 35 gram dikelola Mawa bersma petani lainnya, dibaliknya ada pesan “ Membeli Coklat Ini =  Menjaga Keberlanjutan Petani di Jembrana-Bali. [BT]

Komentar